Buletin

Peran Ukhuwah dalam Etos Belajar Santri : REVITALISASI SEMANGAT BELAJAR MELALUI UKHUWAH DI PESANTREN AL-IHSAN CIBIRU HILIR

PENDAHULUAN

            Menurunnya semangat belajar dan budaya mengaji di kalangan mahasantri menjadi tantangan serius bagi pondok pesantren mahasiswa dewasa ini, termasuk di yang terjadi di Pondok Pesantren Al-Ihsan Cibiru Hilir. Mahasantri yang memilih untuk melanjutkan studinya sambil menempuh kehidupan di pondok pesantren mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih dibandingkan dengan mahasiswa biasa. Tantangan tersebut membuat salah satu kewajiban dari kedua tanggung jawab yang melekat pada mahasantri terkadang menjadi terabaikan. Khususnya kewajiban belajarnya sebagai mahasantri di pondok pesantren.

             Salah satu penyebab terabaikannya tanggung jawab tersebut ialah melemahnya ukhuwah yang mendorong budaya ilmu, sehingga tingkat semangat belajar mahasantri mengalami kemerosotan. Ukhuwah bukanlah sekadar status saudara secara sosial semata, melainkan juga kekuatan moral yang mampu menumbuhkan kembali etos keilmuan dan semangat belajar mahasantri. Dengan demikian, artikel ini berupaya mengkaji urgensi ukhuwah dalam menghidupkan kembali budaya keilmuan mahasantri di pondok pesantren Al-Ihsan Cibiru Hilir yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami degradasi semangat belajar.

PEMBAHASAN

A. Perubahan Secara Komprehensif

          Upaya mengatasi penurunan semangat belajar mahasantri perlu dilakukan secara komprehensif, tidak hanya melalui kesadaran individu mahasantri, tetapi juga melalui peran seluruh pihak yang terlibat dalam lingkungan pendidikan pesantren. Dalam konteks tersebut, ukhuwah memiliki peran penting dalam membentuk budaya ilmu di kalangan mahasantri. Budaya saling mengingatkan untuk menghadiri pengajian dan saling bantu dalam memahami pelajaran merupakan bentuk nyata dari ukhuwah yang mampu menumbuhkan semangat belajar. Sebaliknya, ketika nilai-nilai ukhuwah mulai melemah, maka budaya ilmu dan semangat belajar mahasantri juga akan mengalami kemerosotan.

B. Revitalisasi Ukhuwah Antarsesama

            Melemahnya ukhuwah di lingkungan pondok pesantren dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti rendahnya kepedulian sosial untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, minimnya keteladanan, sistem pembelajaran yang tidak dapat diikuti dan dipahami oleh mahasantri, dan lemahnya sistem pengawasan yang diterapkan oleh pengurus pesantren. Kondisi tersebut menyebabkan mahasantri menjadi lebih individualis. Akibatnya, ketika terdapat mahasantri yang mulai mengalami penurunan motivasi belajar, lingkungan di sekitarnya tidak mampu memberikan dukungan yang cukup.

            Oleh karena itu, revitalisasi semangat belajar mahasantri perlu dilakukan melalui penguatan ukhuwah di lingkungan pondok pesantren. Upaya tersebut dapat diwujudkan dengan cara seperti membangun budaya saling mengingatkan dalam kebaikan antarsesama mahasantri, mengubah sistem pembelajaran menjadi yang memang dibutuhkan oleh mahasantri agar mudah diikuti dan dipahami, menghadirkan keteladanan dari pengurus dan senior, dan adanya sistem pengawasan yang terstruktur dan berkelanjutan.

C. Implementasi Sistem Pengawasan yang Terstruktur dan Berkelanjutan

           Penerapan sistem pengawasan yang terstruktur dan berkelanjutan dapat dilakukan melalui beberapa tahapan pembinaan, seperti memberikan teguran oleh pengurus sebagai peringatan pertama, memberikan evaluasi dan pembinaan khusus secara bertahap kepada yang melanggar disiplin belajar, dan merelokasi mahasantri yang melanggar ke asrama yang lebih supportif agar memperoleh pengaruh belajar yang lebih positif sebagai peringatan ketiga. Apabila berbagai upaya tersebut belum memberikan perubahan, maka penanganan lebih lanjut dapat diserahkan kepada pimpinan pondok sebagai langkah terakhir.

PENUTUP

           Upaya mengatasi penurunan semangat belajar mahasantri perlu dilakukan secara komprehensif. Ukhuwah merupakan hal penting yang harus senantiasa dijaga dalam budaya belajar. Membangun budaya saling mengingatkan antarsesama, menjadi teladan bagi sesama, menyesuaikan sistem pembelajaran menjadi yang memang dibutuhkan, serta menerapkan sistem pengawasan yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi faktor penting dalam menumbuhkan kembali serta menguatkan ikatan ukhuwah antarsesama mahasantri. Pada akhirnya, mampu meningkatkan kembali etos keilmuan dan semangat belajar mahasantri.

DAFTAR PUSTAKA 

Wawancara Dengan Alfi Munawar Joharudin, Ketua Divisi Pendidikan OSPAI Ponpes Al-Ihsan Cibiru Hilir Bandung, (Bandung, 12 Mei 2026).