Internalisasi Ukhuwah dalam Karakter Santri : Meluruhkan Aku, Menemukan Kita
PENDAHULUAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan nilai-nilai Islam di pesantren memiliki dampak positif yang signifikan pada karakter santri, termasuk kedalaman spiritualitas, kebajikan moral, kemandirian, keterampilan sosial, dan pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam (Ttriyono & Mediawati, 2023). Dalam dunia pesantren, seorang santri tidak hanya berorientasi dengan hafalan kitab, kemampuan membaca teks klasik, atau banyaknya ilmu yang dipelajari. Lebih dalam dari itu, pesantren merupakan ruang pembentukan jiwa, tempat ego manusia perlahan ditempa dan dikendalikan. Dalam tradisi Islam, perjuangan ini dikenal sebagai upaya melawan ananiyah, yaitu sifat mementingkan diri sendiri yang membuat seseorang merasa paling penting, paling layak didengar, atau paling berhak atas kenyamanan. Hidup bersama dalam ruang yang terbatas membuat privasi menjadi sesuatu yang langka dan ego menjadi hal yang harus ditekan. Namun justru dari kondisi itulah ukhuwah atau persaudaraan tumbuh dengan kuat. Di pesantren, seseorang belajar untuk tidak lagi memandang segala sesuatu hanya dari sudut “aku”, tetapi mulai memahami kehidupan melalui sudut pandang “kita”. Karakter santri sejatinya tidak terbentuk semata-mata dari teori atau tulisan, melainkan dari pengalaman hidup bersama, rasa lelah yang dipikul bersama, kebersamaan saat makan dalam satu nampan, hingga kesadaran bahwa kebahagiaan tidak selalu ditemukan dalam kepentingan pribadi. Dari proses inilah lahir pemahaman bahwa menemukan diri yang utuh justru dimulai ketika seseorang mampu meluruhkan egonya dan belajar hidup untuk sesama.
PEMBAHASAN (Argumentasi)
Agumentasi pertama terletak pada arsitektur sosial pesantren yang tidak mengenal kata "milikku" secara mutlak. Di rumah, seseorang mungkin memiliki kamar pribadi dengan kunci yang bisa ia tutup rapat kapan saja. Namun di pesantren, privasi adalah barang mewah yang hampir tidak ada. Bayangkan sebuah lemari kecil yang harus menampung seluruh kehidupan seorang santri, atau lantai asrama yang menjadi tempat tidur belasan orang sekaligus. Di sini, "Aku" dipaksa untuk meluruh karena ia harus terus-menerus bernegosiasi dengan sesama hingga lahirlah "Kita". Keinginan untuk tidur dalam ketenangan harus berdamai dengan teman yang masih membaca Al-Qur'an, keinginan untuk mandi cepat-cepat harus tunduk pada antrean yang mengular, keinginan untuk tidur dengan lampu mati harus berdamai dengan teman yang masih belajar dengan lampu menyala. Dalam gesekan fisik dan mental sehari-hari inilah, sifat sombong dan merasa paling penting perlahan rontok. Santri belajar bahwa dunia tidak berputar di sekeliling dirinya saja.
Argumentasi kedua dapat kita lihat dari tradisi makan bersama dalam satu nampan, yang menjadi praktik riyadhah (latihan) sosial paling ikonik di pesantren. Di atas nampan ini, saat beberapa pasang tangan mengambil nasi dari sumber yang sama, terjadi ujian kejujuran dan empati yang sesungguhnya. Namun, lebih dari sekadar urusan perut, tradisi ini adalah simbol peleburan "kasta intelektual" yang sangat khas di pesantren mahasiswa seperti Al-Ihsan. Di universitas, mereka mungkin dikenal sebagai mahasiswa Teknik yang logis, mahasiswa Hukum yang kritis, atau mahasiswa Filsafat yang prestisius. Namun, di pesantren, identitas sektoral tersebut luruh, mereka kembali menjadi santri yang duduk bersila di lantai yang sama untuk mengkaji kitab yang sama. Di sinilah terjadi proses tawadhu (rendah hati) secara sistemik. Identitas sebagai calon sarjana seolah ditanggalkan saat mereka harus bahu-membahu melakukan roan (kerja bakti) atau mengantre kamar mandi tanpa hak istimewa apa pun. Tidak ada lagi sekat antar-jurusan yang ada hanyalah sesama pencari ilmu yang setara. Hal ini selaras dengan penelitian tentang budaya organisasi pesantren, di mana regulasi kehidupan asrama memaksa terjadinya interaksi sosial yang intens tanpa memandang latar belakang akademik. Dampaknya, sifat merasa paling pintar perlahan terkikis, menjadi bentuk nyata dari penghancuran sifat Ananiyah (keegoan) di tengah ketatnya persaingan intelektual dunia kampus.
Argumentasi ketiga adalah internalisasi sifat Al-Itsar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. Di pesantren, Itsar bukan sekadar konsep di kitab kuning, melainkan tindakan-tindakan kecil. Puncak karakter mahasantri terlihat ketika mereka mampu mengesampingkan kelelahan demi saudaranya. Tindakan sederhana seperti meminjamkan catatan kuliah kepada teman yang sakit, atau tetap terjaga menemani teman yang sedang mengalami krisis mental di tengah pekan ujian, adalah bentuk nyata peluruhan ego. Pun saat seorang santri memberikan sisa air terakhir di tekonya kepada temannya yang kehausan, padahal ia sendiri juga haus. Dalam kacamata logika biasa, tindakan ini mungkin terlihat merugikan diri sendiri. Namun bagi jiwa yang sedang berproses, inilah saat "Aku" benar-benar telah luruh. Ia tidak lagi merasa kehilangan saat memberi, sebaliknya, ia merasa menemukan "dirinya yang lebih luas" di dalam kebahagiaan saudaranya. Inilah karakter santri yang sebenarnya, mereka yang sudah selesai dengan urusan perut dan egonya sendiri, lalu mewakafkan sisa hidupnya untuk menjadi manfaat bagi sesama. Itsar bukan berarti mengabaikan kebutuhan diri sepenuhnya, tetapi menunjukkan bahwa seseorang memiliki kelapangan jiwa untuk memberi tanpa pamrih dan tidak terikat pada materi (Siagian et al., 2025).
PENUTUP (Penegasan Ulang)
Pada akhirnya, Meluruhkan Aku, Menemukan Kita bukan sekadar cara santri bertahan hidup di asrama, melainkan sebuah transformasi jiwa. Pesantren melatih kita untuk berhenti bertanya keuntungan apa yang aku dapat? dan mulai mencari jawaban atas manfaat apa yang bisa aku bagikan untuk sesama?. Di tengah dunia yang semakin individualis, santri yang telah luruh egonya hadir sebagai oase yang menyejukkan. Ketika "Aku" telah benar-benar luruh, yang tersisa hanyalah ikatan persaudaraan yang tulus karena Allah. Dalam "Kita", seorang santri tidak hanya menemukan kekuatan, tetapi juga menemukan ridha Tuhan yang selama ini ia cari.
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, N. A. (2025). INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL DALAM MEMBANGUN UKHUWAH ISLAMIYAH SANTRI DI PONDOK MODERN ARRISALAH PUTRI SLAHUNG DAN ASRAMA PUTRI PONDOK PESANTREN AL-ISLAM JORESAN.
Siagian, H. N., Farabi, M. Al, & Ag, M. (2025). Membangun Masyarakat Harmonis Melalui Pendekatan Wahdatul Ulum dan Ukhuwah Islamiyyah. 1(1).
Ttriyono, B., & Mediawati, E. (2023). Transformasi Nilai-Nilai Islam melalui Pendidikan Pesantren : Implementasi dalam Pembentukan Karakter Santri.