Buletin

Inovasi Keuangan Pesantren: Al Ihsan Gelar Workshop Automated Bookkeeping demi Tata Kelola yang Lebih Transparan

Diliput dari kegiatan Workshop Keuangan OSPA Al-Ihsan, Cileunyi Bandung, 19 April 2026.

      Pada tanggal 19 April 2026 telah diselenggarakan Workshop Keuangan di Aula Pondok Pesantren Al-Ihsan di Cileunyi, Bandung. Kegiatan ini dinaungi oleh Kementerian Keuangan Organisasi Santri Pesantren Al-Ihsan (OSPAI) Kabinet As-Siroj 2025–2026 dengan Tema bertema "Automated Bookkeeping: Membangun Sistem Pencatatan Keuangan Otomatis".

Kenapa Pesantren Perlu Sistem Keuangan Digital?

      Selama ini, banyak organisasi di lingkungan pesantren masih mencatat keuangan secara manual ditulis tangan atau diketik sederhana tanpa sistem yang terstruktur. Cara ini memang sudah lama dipakai, namun rawan kesalahan hitung, memakan banyak waktu, dan sulit diperiksa ulang secara transparan.

      Automated bookkeeping, atau pencatatan keuangan otomatis, hadir sebagai solusi. Dengan memanfaatkan teknologi seperti Microsoft Excel atau aplikasi akuntansi digital, transaksi keuangan bisa dicatat dan dirangkum secara otomatis lebih cepat, lebih rapi, dan jauh lebih minim kesalahan.

      Bagi Pondok Pesantren Al-Ihsan yang mengelola berbagai sumber dana seperti iuran santri, donasi, dan kas kegiatan, sistem seperti ini merupakan kebutuhan untuk mempermudah pengelolaan dan transparansi.

       Workshop ini merupakan program kerja Kementerian Keuangan Kabinet As-Siroj 2025–2026 yang ingin meningkatkan kemampuan para pengurus organisasi santri dalam mengelola anggaran secara lebih profesional. Salah satu masalah yang mendorong lahirnya program ini adalah pergantian pengurus yang terjadi setiap tahun. Ketika pengurus baru masuk tanpa sistem yang jelas, jejak keuangan dari periode sebelumnya sering kali hilang begitu saja. Dengan sistem pencatatan otomatis yang terstandar, diharapkan pengelolaan keuangan bisa terus berjalan dengan baik meski personilnya berganti.

Apa yang Ingin Dicapai?

         Workshop ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, membantu santri memahami cara memanfaatkan teknologi, khususnya Excel agar pekerjaan pencatatan yang biasanya memakan berjam-jam bisa diselesaikan jauh lebih cepat. Kedua, mendorong pengurus agar mampu mengambil keputusan keuangan berdasarkan data yang akurat, bukan sekadar perkiraan. Ketiga, menanamkan kesadaran bahwa kemampuan mengelola keuangan secara digital adalah bekal penting, baik untuk organisasi pesantren maupun kehidupan profesional ke depan.

Siapa yang Mengisi Acara?

          Pemateri utama workshop ini adalah Irma Pebriawati, S.Hum., seorang alumni Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang kini bekerja di Bank BRI. Menariknya, Irma bukan orang baru di lingkungan pesantren ini. ia pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan OSPAI, sehingga betul-betul memahami tantangan keuangan yang dihadapi organisasi santri dari dalam.

         Sesi diskusi dan tanya jawab dipandu oleh Siti Humairoh selaku moderator, yang berhasil menjaga suasana tetap interaktif dan menyenangkan sepanjang acara.

Apa Manfaat yang Dirasakan Peserta?

         Setiap peserta mendapatkan manfaat langsung: mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mempraktekkan pembuatan template pencatatan keuangan yang bisa langsung digunakan. Selain itu, peserta memperoleh e-sertifikat, memperluas jaringan, dan berkesempatan mendapatkan doorprize.

         Dari sisi organisasi, manfaatnya lebih jangka panjang. Dengan sistem yang sudah terstandar, setiap pergantian pengurus bisa berjalan lebih mulus tanpa kehilangan data keuangan yang penting.

Digitalisasi di Lingkungan Pondok Pesantren

          Langkah yang diambil Kabinet As-Siroj ini sekaligus menjawab anggapan bahwa pesantren identik dengan cara-cara yang jauh dari teknologi. Pondok Pesantren Al-Ihsan justru menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman dan kemampuan beradaptasi dengan zaman bisa berjalan beriringan.

          Automated bookkeeping hanyalah langkah awal. Dengan literasi keuangan digital yang semakin kuat, para santri Al-Ihsan diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai pribadi yang berilmu agama, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu mengelola amanah  termasuk amanah keuangan secara bijak dan bertanggung jawab.

"Santri yang cerdas bukan hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga cerdas dalam mengelola amanah termasuk amanah keuangan."