Buletin

Sisi Lain Layar Sinetron

Sebelum membahas tentang sinetron, penulis akan membahas terlebih dahulu tentang Televisi. Televisi atau lebih akrab disebut TV adalah media elektronik yang setidaknya memiliki empat fungsi, yakni media berita dan penerangan, media pendidikan, media hiburan, dan media promosi. Salah satu hasil dari implementasi hiburan itu adalah keberadaan sinetron.

            Sinema elektronik atau biasa disebut sinetron adalah sandiwara bersambung yang sampai saat ini masih memiliki tempat di kalangan masyarakat. Hampir setiap stasiun televisi menayangkan sinetron sampai berjam-jam lamanya. Kisah percintaan, mistis, sampai religi ikut meramaikan. Namun siapa sangka, di balik semua itu sinetron ternyata juga membawa perubahan dalam kehidupan bermasyarakat.

            Sinetron mulai berkembang di Indonesia ketika adanya regulasi agar tayangan produksi dalam negeri lebih banyak, dibanding produksi luar negeri. Hampir seluruh stasiun televisi ramai-ramai menayangkannya. Pada awalnya, rumah produksi didirikan untuk memenuhi kebutuhan akan banyaknya permintaan tayangan dalam negeri, namun pemilik modal melihat ada peluang yang menjanjikan dalam bisnis ini.

            Pernah dengar istilah rating? Rating secara harfiah adalah evaluasi atau penilaian suatu hal. Lalu apa hubungannya dengan sinetron? Nah, perlu diketahui ternyata keberlangsungan penayangan  suatu sinetron  dipengaruhi oleh rating. Semakin tinggi rating suatu sinetron, semakin memperpanjang jumlah episode yang ditayangkan. Makanya tidak heran kalau teman-teman menemukan sinetron yang episodenya sampai ribuan atau ada sinetron yang baru juga mulai sudah tamat. Itu semua adalah pengaruh dari rating.

            Rating ibarat kiblat bahkan bisa disebut “Tuhan” dalam dunia pertelevisian di Indonesia. Maksudnya gimana? Jadi begini, siapa yang tidak mengikutinya akan “binasa” acara programnya. Karena itulah mungkin kita pernah melihat acara yang kualitasnya  biasa-biasa saja, tapi tetap langgeng sampai saat ini. Kualitas suatu  program tidak sesuai dengan yang diharapkan. Idealisme kalah oleh keberadaan rating. Tapi tak perlu khawatir, masih ada kok acara TV yang tidak mengedepankan rating.

            Perlu diketahui juga bahwa sinetron secara tidak langsung berperan mempengaruhi kehidupan. Sinetron bisa mengajarkan untuk hidup pantang menyerah, selalu berusaha, sabar, rajin beribadah. Hal-hal itulah yang sebenarnya kita harapkan. Terlepas dari dampak positif, efek negatif dari penayangannya juga tak kalah banyak.

Tentu kita pernah mendengar seorang anak menganiaya temannya sendiri karena terpengaruh oleh sinetron, akibatnya bagaimana? Temannya mengalami cedera yang cukup parah. Adegan seperti itu, apabila disaksikan oleh anak-anak secara terus menerus, mengakibatkan mereka berperilaku agresif. Hal ini sangat berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tak hanya anak-anak bahkan orang dewasa juga bisa terpengaruh oleh tayangan yang ada di sinetron. Selain kekerasan, sikap hedonisme, budaya konsumtif, rusaknya moral masyarakat, mengarah pada irrasionalitas, jauh dari realitas juga menjadi dampak dari adanya sinetron.

Jangan lupakan jam tayang atau prime time.  Jam tayang atau  prime time dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu prime time A antara pukul 19.30-21.30, prime time B antara pukul 18.00-19.00, dan prime time C antara pukul 21.30-23.30.  Diantara ketiga jam tersebut,  pada prime time A biasanya sinetron ditayangkan, karena pada saat itu masyarakat sedang bersantai menonton televisi.

Oleh karena itu, mari kita menjadi penonton yang bijak dalam memilah dan memilih sinetron. Kalaupun tidak ada, kita tetap bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat, meminimalisir waktu menonton TV, mendampingi anak-anak ketika memilih tontonan serta tak lupa memberi pengertian kepadanya.