Santri Harus Out of The Box dalam Menghadapi Revolusi Global
Dunia saat ini sedang berada di tengah-tengah revolusi global yang melibatkan semua aspek kehidupan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan zaman begitu pesat sekali, kita sebagai umat Islam kita tidak boleh terus-terusan mengalami kemunduran. Masih ingatkah tentang keruntuhan Turki Utsmani? Yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran, baik dari aspek politik, ekonomi, maupun dalam bidang pendidikan.
Di abad ke-21 ini umat Islam perlahan mulai menyadari dan berusaha untuk bangkit dari ketertinggalannya. Berusaha bersaing dalam perubahan arus zaman yang begitu pesat. Tokoh-tokoh cendikiawan Muslim kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi, Fethullah Gullen, dan yang sedang disorot oleh dunia saat ini, melalui pemikirannya yang out of the box, yaitu Bapak Recep Tayyip Erdogan. Baru-baru ini beliau telah membebaskan Masjid Hagia Sophia, yang sebelumnya dijadikan sebagai museum oleh Mustafa Kemal Ataturk. Tak hanya itu sebelumnya juga Bapak Erdogan telah memperjuangkan hak-hak Muslimah seperti pembebasan pemakaian kerudung yang asalnya dilarang saat dibawah pemerintahan Kemal Ataturk, juga pengubahan lafadz adzan yang asal memakai bahasa Turki, kembali kepada yang seharusnya yaitu bahasa Arab.
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam dengan kiai sebagai figur sentral dan masjid sebagai pusat lembaganya. Menurut Din Syamsuddin, pondok pesantren memiliki fungsi ganda (dzȗ wujȗh): pertama, sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang berfungsi dan mengembangkan ilmu-ilmu keislaman. Kedua, sebagai lembaga pengaderan yang telah berhasil melahirkan kader umat dan kader bangsa. Ketiga, sebagai agen reformasi sosial yang menciptakan perubahan dan perbaikan dalam kehidupan masyarakat (Syamsuddin, 2000: 102).
Manusia hidup di era globalisasi, ditandai dengan adanya teknologi dan arus teknologi yang begitu cepat. Sejak terciptanya satelit, akses manusia melenium menjadi seperti tak terbatas. Dunia yang begitu luas terasa begitu dekat dengan adanya internet, komunikasi jarak jauh memudahkan manusia dalam bersosialiasi, hal ini menimbulkan model gaya hidup baru yang disebut dengan sosial media.
Dibalik itu tersembunyi permasalahan yang serius, berbenturannya ideologi antar suku bangsa yang begitu cepat, membuat manusia yang tidak dilandasi kekokohan dalam dirinya akan tergiring oleh arus globalisasi. Tak hanya itu, agama pun tak luput dari dampak globalisasi ini.
Santri sangat berperan penting dalam memajukan peradaban umat Islam. Di era globaliasi ini santri tuntut harus bergerak cepat dalam menanggapi persaingan global, bukan jihad tentang perang lagi yang harus dipikirkan, tapi jihad dalam ideologi dan teknologi.
Perang dimedan pertempuran bukan lagi pilihan saat ini, perang pemikiran dan teknologilah yang harus umat Islam waspadai. Hoax, sabotase bahkan fitnah yang bisa mengadu-domba sesama umatlah yang harus diwaspadai. Mari kita renungkan bagaimana jika para santri tidak membuat perubahan dan pembaharuan? Umat Islam akan terus berada dalam zona kemunduran.
K.H. Tantan Taqiyudin Lc. selaku pimpinan pondok pesantren al-Ihsan Cibiru Hilir, selalu mengingatkan dalam pengajiannya bahwa, setiap salafi, selalu merujuk kepada pembaharuan, dan setiap pembaharuan selalu kembali kepada salafi. Artinya bahwa umat Islam, akan selalu melakukan pembaharuan yang relavan dengan zamannya, dan setiap pembaharuan akan kembali kepada kemurnian Islam yang ketauhidan dan akidahnya bersumber kepada Alquran dan as-Sunnah.
Sering kali kita mendikhotomikan atau membeda-bedakan antara ilmu umum seperti ilmu sains, dan sosial dengan ilmu agama, padahal keduannya mempunyai keselaran di dalam agama Islam. Pembaharuan seperti astronomi, fisika, biologi, hukum, ekonomi, sudah tercantum dalam Alquran, orang-orang barat mengklaim bahwa mereka yang menemukan bahwa semakin tinggi atmosfer dan mendekati luar angkasa maka semakin pula sedikit oksigen yang ada hingga nol persen. Padahal jauh-jauh hari sebelum mereka menemukan penemuan itu, Allah telah menjelaskan di dalam Quran Surah al-An’am ayat 125. Dari sini saja kita bisa melihat bahwa ilmu umum dan ilmu agama tidak bisa dibeda-bedakan karena kedua selaras dan saling berhubungan.
Santri bukan hanya belajar tentang agama saja, ulama bukan hanya yang ahli dalam bidang balqah saja, tapi para ilmuan pun adalah ulama, jika ia menyandarkan ilmunya kepada Allah swt. seperti yang telah Allah katakan dalam Alquran Surah az-Zumar ayat 9.
Mindset para santri harus diubah, harus out of the box keluar dari zona nyamannya, harus berusaha survival dalam mengahadapi perkembangan zaman. Jika santri hanya leha-leha dan berfikir bahwa ilmu agama saja yang harus dipelajari sedangkan ilmu lain tidak penting dipelajari, maka umat Islam akan terus-terusan tertinggal dan mengalami kemunduran.
Ibnu Sina adalah salah satu tokoh penting dalam perjalan menuju kepada kedokteran modern. Karya-karya Ibnu Sina hingga kini menjadi rujukan para ilmuan dan dokter diberbagai penjuru dunia. Hanya segelintir orang yang menyadari dan menerima kesinambungan antara ilmu umum dengan ilmu agama. Sebagai kader muda, santri harus belajar dan membukakan diri tentang hal ini.
Disisi lain santri diwajibkan mempunyai prinsip hidup mandiri, Self-confident, tidak mengeluh, tidak cengeng, dan tidak harus mengandalkan orang lain, dalam artian mengakui apa yang ada pada dirinya sendiri dan menyadari bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dikerjakan.
Tidak sedikit pula santri yang merasakan hasilnya saat beranjak dewasa, bahwa apa kemandirian adalah suatu hal yang penting, Innal-fatȃ man yaqȗlu hȃ ana dzȃ, wa laisal-fatȃ man yaqȗlu kȃna abȋ: seorang pemuda ialah siapa yang berani menepuk dada dan berkata inilah aku, bukan pemuda yang mengatakan ini adalah ayahku.
Menurut Rusdi Sulaiman, filosofi huruf “I”, yang berarti aku atau saya dalam bahasa inggris, misalnya. Di mana pun diposisikan, baik sebagai huruf kapital atau di tengah kalimat, huruf “I” selalu tertulis sebabgai huruf besar, dan belum pernah tertulis sebagai huruf kecil. Sedikit-banyak, hal ini memberi pengaruh terhadap semangat hidup bangsa inggris yang tidak mau mengalah. Kerajaan Inggris yang wilayahnya tak terlalu besar ternyata mampu menguasai tiga perempat dunia dalam sejarah peradaban manusia. (Sulaiman, 2013: 31)
Beberapa tahun terakhir telah ramai diperbincangkan wacana Arab kontemporer ungkapan “kebangkitan Islam” al-Shahwah al-Islȃmiyyah atau Islamic awakening. Terlepas dari adanya keterikatan anatara ungkapan ini dengan peristiwa tertentu –terutama revolusi Iran− dan munculnya berbagai gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin yang menyerukan penerepan sistem Islam al-Nizhȃm al-Islȃmy. Meskipun pendirinya Hasan al-Banna meninggal dunia pada 12 Febuari 1949, tapi pemikirannya tetap diteruskan kepada generasi-generasi selanjutnya, hingga pemikiran ini tidak sedikit diajarkan kepada para santri. Hal ini lambat-laun akan membukakan mata para santri tentang kebangkitan Islam di waktu yang akan datang.
Santri tidak boleh kehilangan jati dirinya dalam menghadapi kemajuan zaman. Revolusi santri berarti bertrasformasinya santri dari pemikiran yang biasa, menjadi pemikiran yang out of the box. Revolusi santri bukan berarti mengubah santri menjadi orang yang baru, tetapi revolusi santri adalah menjadikan santri sebagai kader yang siap menyambut dan menjadi ujung tombak dari sebuah perputaran zaman.