QURBAN
“ Kita terkadang masih sulit menempatkan secara tepat antara spiritual dan nilai ritual”, temanku membuka pembicaraan saat kami bertemu di sebuah warung kopi.
“ Kadang, sesuatu yang sifatnya spiritual menjadi berkurang nilainya ketika kita menjadikannya ritual. Naik haji, contohnya. Ini perintah yang mempunyai nilai spiritual yang sangat tinggi. Sebuah penyerahan total, sebuah penghambaan, melepaskan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Tapi, banyak kita lihat perintah ini menjadi sebuah ritual untuk mengugurkan kewajiban. Ketika sudah berhaji, kita merasa selesai, sudah melaksanakan semua perintah Tuhan. Balik kerumah, hilang semua nilai spiritualnya. Yang tertinggal hanyalah gelar ”.
Aku menyimak, sesekali menyeruput kopi panas yang berada tepat dihadapanku.
“Apa yang membedakan antara seseorang yang mengerjakan perintah dengan spiritual dan ritual?”
“Akhlak”. Jawab temanku dengan lugas. “ Ketika seseorang sudah mampu secara total melepaskan baju duniawinya dan menghamba kepada Tuhan, secara otomatis perilakunya berubah. Dan perilaku itu sudah seharusnya Nampak jauh sebelum dia berhaji, bukan sesudahnya ”.
“ Maksudnya ?” tanyaku heran.
“ Kita melihat ada konsep mampu dalam berhaji maka jangan kita batasi mampu dalam sifat materi saja, tetapi lebih jauh lagi, yaitu mampu secara spiritual. Orang yang sudah pada taraf mampu secara spiritual, berarti dia sudah mampu meninggalkan sifat duniawinya. Dia akan melihat dulu dirinya sendiri, sudah mampukah saya menghamba? Dan dia akan melihat disekitarnya, sudah mampukah saya menolong mereka? Jangan sampai dia berhaji, tapi orang disekitarnya kelaparan dan butuh bantuan. Dia bahkan tidak mau menolong mereka, karena mnedahulukan dirinya sendiri. ketika hasrat berhaji itu lebih mendesak daripada kewajibannya menolong orang lain, dia belum mampu meninggalkan sifat duniawinya yang egois “.
Tercekat rasanya tenggorokan mendengar kalimat itu. Rasanya, kopi menjadi begitu pahit.
“ Menolong orang lain yang membutuhkan adalah sebuah kewajiban bagi manusia yang beriman. Nilai spiritualnya sangat tinggi, karena disitulah terletak ketaqwaan kepada Tuhan dan keadilan kepada sesama manusia. Bahkan, saking pentingnya menolong sesama, Al-Quran merekamnya dalam surat Al-Maidah ayat 55. Saat Sahabat Ali bin Abi Thalib Karromallohu Wajhah sedang shalat dan ada seorang peminta-minta yang kelaparan, beliau menyodorkan tangannya saat rukuk, supaya pengemis itu mengambil cincin di jarinya, dengan maksud supaya dijual dan membeli makanan. Perhatikan ketinggian nilainya yang membuat Tuhan menyampaikan dalam firma-Nya”.
Semakin menarik pembahasan ini. Temanku menarik kursinya ke belakang dan mengambil kopinya, sambal tersenyum, dan melanjutkannya.
“ Jadi, temanku, semoga ini bisa menjawab pertanaanmu, yang mana harus kamu dahulukan, antara menolong saudaramu yang sedang membutuhkan atau membeli hewan qurban. Lihat dulu dirimu, apakah kamu punya hutang kepada seseorang? Bayarlah, jangan sampai dia marah kepadamu karena kamu karena kamu bisa membeli hewan qurban tapi tidak bisa membayar hutangmu. Berarti kamu tidak adil kepadanya. Atau, jika kamu menemukan orang yang sangat membutuhkan uangmu, bantulah dia terlebih dahulu. Kemampuanmu membantunya dengan mengorbankan qurbanmu adalah qurban atas qurban itu sendiri”.
Saatnya saya mengangkat cangkir kopi ini untuknya….
Sumber : Tuhan Dalam Secangkir Kopi
Pengarang : Denny Siregar